A. Pengertian Dioda
Dioda
merupakan komponen semikonduktor yang paling sederhana.Kata dioda berasal
daripendekatan kata yaitu dua elektroda yang mana (di berarti dua) mempunyai
dua buah elektroda yaitu anoda dan katoda.
Dioda adalah komponen
aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat semikonduktor, yang memperbolehkan
arus listrik mengalir ke satu arah (kondisi panjar maju) dan menghambat arus
dari arah sebaliknya (kondisi panjar mundur).Dioda dapat disamakan sebagai
fungsi katup di dalam bidang elektronika.Dioda sebenarnya tidak menunjukkan
karakteristik kesearahan yang sempurna, melainkan mempunyai karakteristik
hubungan arus dan tegangan kompleks yang tidak linier dan seringkali tergantung
pada teknologi atau material yang digunakan serta parameter penggunaan.Beberapa
jenis dioda juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk penggunaan
penyearahan. Awal mula dari dioda adalah
peranti kristal Cat's Whisker dan tabung hampa (juga disebut katup termionik).
Saat ini dioda yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon
atau germanium. Walaupun dioda kristal (semikonduktor) dipopulerkan sebelum
dioda termionik, dioda termionik dan dioda kristal dikembangkan secara terpisah
pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari dioda termionik ditemukan oleh
Frederick Guthrie pada tahun 1873. Sedangkan prinsip kerja dioda kristal
ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti Jerman, Karl Ferdinand Braun. Pada
waktu penemuan, peranti seperti ini dikenal sebagai penyearah (rectifier).Pada
tahun 1919, William Henry Eccles memperkenalkan istilah dioda yangberasal dari
di berarti dua, dan ode (dari ὅδος) berarti "jalur".
B.
Jenis-Jenis
Dioda
1. Dioda zener
Diode
zener adalah diode silicon yang sangat terkotori, tidak seperti diode normal,
memiliki breakdown yang mendadak pada tegangan yang relative rendah (biasanya
kurang dari 6 V). efek yang sama terjadi pada diode yang kurang terkotori. Diode
runtuhan (avalanche diode) ini juga memiliki breakdown yang sangat
cepat dengan aliran arus yang dapat di abaikan pada kondisi di bawah tegangan
runtuhan dan aliran arus yang relative besar ketika mencapai tagangan
runtuhannya. Untuk diode runtuhan, tegangan breakdown ini biasanya terjadi pada
tegangan di atas 6 V. namun dalam prakteknya, kedua jenis diode ini di sebut
sebagai diode zener.
Walaupun breakdown mundur merupakan efek yang sangat
tidak di inginkan pada rangkaian yang menggunakan diode konvensional, breakdown
mundur sangat berguna dalam kasus diode zener di mana tegangan breakdownnya di
ketahui secara persis. Ketika diode mengalami breakdown mundur dan asalkan
rating maksimumnya tidak di lampaui tegangan yang timbul pada diode
tersebut akan tetap konstan (sama dengan tegangan zener nominal) tanpa
terpengaruh oleh aliran arus. Sifat semacam ini menjadikan diode zener ideal
untuk digunakan sebagai pengatur tegangan (voltage regulator).
2. Diode dengan kapasitansi variable
Kapasitansi
dari diode yang diberikan bias-mundur akan bergantung kepada lebar dari lapisan
serapan yang pada gilirannya berubah-ubah menurut tegangan mundur yang
diberikan kepada diode. Hal ini memungkinkan diode untuk digunakan sebagai
kapasitor yang dikendalikan oleh tegangan. Diode-dioda yang secara khusus di
buat untuk memenfaatkan efek ini di kenal sebagai diode kapasitansi variable.
Diode-dioda semacam ini digunakan (seringkali secara berpasangan) untuk system
penala (tuning) pada pesawat penerima radio dan TV.
Karakteristik
umum dari sebuah diode kapasitansi variable diperlihatkan pada gambar 1
Gambar 1
karakteristik tipikal dari sebuah diode kapasitansi variable
3. Thyristor
Thyristor
(rectifier yang dikendalikan silicon) adalah perangkat tiga terminal
yang dapat digunakan untuk pengsaklaran dan mengendalikan daya AC. Thyristor
dapat berubah dengan sangat cepat dari kondisi menghantar ke kondisi tidak
menghantar. Dalam kondisi “mati”, thyristor memiliki arus bocor yang dapat
diabaikan, sementara dalam kondisi “hidup” perangkat ini memiliki resistansi
yang sangat rendah. Ini mengakibatkan hilangnya daya yang sangat kecil pada
thyristor bahkan ketika level daya yang cukup besar sedang di kendalikan.
Apabila berada dalam kondisi menghantar, thyristor akan tetap menghantar (yaitu
disaklarkan ke kondisi hidup) hingga arus maju berhenti mengalir ke dalam
perangkat tersebut. Dalam aplikasi-aplikasi d.c., hal ini mengharuskan
penghentian (atau pemutusan) catu sebelum perangkat dapat dikendalikan kepada
kondisi tidak menghantar (reset). Ketika perangkat ini di gunakan dengan sebuah
sumber bolak-balik, perangkat akan secara otomatis kembali di reset setiap kali
sumber tegangan berganti arah. Perangkat ini kemudian akan di aktifkan kembali
pada setengah siklus berikutnya yang memiliki polaritas yang seusai untuk
memungkinkan penghantaran.
Sebagaimana
diode silicon konvensional thyristor memiliki sambungan anode dan katoda;
control di terapkan dengan menggunakan sebuah terminal (lihat gambar 5.12).
perangkat tersebut di picu ke dalam kondisi menghantar dengan jalan memberikan
pulsa arus kepada terminal ini. Pemicuan thyristor yang efektif membutuhkan
suatu pulsa pemicu gerbang yang memiliki waktu kenaikan (rise time)
yang cepat yang diperoleh dari sumber dengan resistansi rendah. Pemcuan dapat
menjadi kacau apabila arus gerbang tidak mencukupi atau ketika arus gerbang
berubah secara lambat.
![]() |
Gambar
2. Sambungan-sambungan thyristor
4. Triac
Triac
adalah pengembangan dari thyristor yang ketika di picu, akan menghantar baik
pada setengah siklus positif maupun negative dari tegangan yang diberikan.
Triac memiliki tiga terminal yang dikenal sebagai terminal-utama satu (MT1),
terminal-utama dua (MT2) dan gerbang (G), seperti yang di perlihatkan pada
gambar 5.13. triac dapat dipicu baik oleh tegangan positif maupun negative yang
di catu antara G dan MT1 dengan masing-masing tegangan positif dan negative
pada MT2. Triac oleh karenanya menyediakan control gelombang-penuh dan
menawarkan kinerja yang lebih unggul dalam aplikasi-aplikasi control daya a.c.
jika di bandingkan dengan thyristor yang menyediakan control
setengah-gelombang. Untuk
mnyederhanakan disain rangkaian pemicu, triac seringkali di gunakan
bersama-sama dengan diac (ekuivalen dengan sebuah diode zener dua arah). Sebuah
diac yang tipikal menghantar dengan sangat baik ketika tegangan yang
diberikan melampaui 30 V pada arah manapun. Setelah memesuki kondisi
menghantar, resistansi diac jatuh sehingga mencapai nilai yang sangat rendah
sehingga arus yang relative besar akan mengalir.
5. Light
Emiting Diode
Light
Emting Diode (dioda pemancar cahaya) menghasilkan cahaya ketika arus mengalir
melewatinya. Pada awalnya LED hanya dibuat dengan warna merah. Namun, sekaang
warna-warna jingga, kuning,hijau,biru dan putih juga tersedia dipasaran.
Terdapat pula LED infra merah,yang menghasilkan vcahaya infra merah, alih-alih
cahaya tampak. Sebuah LED yang tipikal memiliki kemasan berbentuk kubah yang
terbuat dari bahan plastik,dengan piggiran yng menonjol (rim) pada bagian bawah
kubah.Terdapat dua buah kaki terminal dibagian bawah kubah. Biasanya, kaki
katoda lebih pendek dari kaki anoda. Cara lain membedakan kaki katoda dengan
kaki anoda adalah dengan memperhatikan bagian rim (apabila LED yang
bersangkutan memang memilikinya). Rim dibuat berbentuk datar pada sisi yang
berdekatan dengan kaki katoda. Sebuah LED membutuhkan arus sekitar 20 mA untuk
memancarka cahaya dengan kecerahan maksimum, meskipun arus sekecil 5mA pu masih
dapat menghasilkan cahaya yang jelas tampak. Jatuh tegangan maju sebuah LED
rata-rata adalah 1,5 V, sehingga pasokan
tegangan 2V dapat menyalakan sebagian besar LED dengan kecerahan maksimum.
Dengan level-level tegangan yang lebih tinggi, LED dapat terbakar apabila tegangan
maju yang diberikan akan melebihi 2 V. kita harus penting untuk menyambungkan
resistor pembatas arus secara seri kesebuah LED.
-
Resistor Pembatas Arus
Nilai
tahanan yang sesuai untuk resistor pembatas arus dapat dihitung dengan cara
sebagai berikut Tegangan sumber yng diberikan adalah Vs volt. Arus
LED yang kita inginkan adalah i amp.
Asumsikan bahwa jatuh tegangan maju yang akan dihasilkan adalah 2 V.
Jatuh tegangan
pada resistor haruslah bernilai Vs-2.
Menurut Hukum
Ohm, nilai jatuh tegangan ini harus sama dengan iR. Sehingga :
![]()
Menyusun kembali
persamaan diatas untuk mendapatkan nilai R akan menghasilkan:
![]()
Bentuk dan
ukuran
LED
digunakan sebagai lampu-lampu indicator, misalnya,untuk mengindikasikan bahwa
daya listrik kesebuah perangkat berada dalam keadaan tersambung. LED juga
digunakan untuk tampilan-tampilan informative dan dekoratif. LED dibuat dalam
beragam bentuk,beberapa diantaranya bulat,persegi dan segitiga.
Susunan
beberapa buah LED digunakan untuk membentuk sebuah display (tampilan). Bentuk susunan yang paling umum adalah tampilan
tujuh-segmen., yang digunakan untuk menampilkan angka-angka dan huruf-huruf
secara digital. Satu atau beberapa baris susunan semacam ini dapat digunakan
untuk menampilkan sebuah pesan lengkap.
LED
dibuat dengan beberapa ukuran tertentu. LED terkecil memiliki ukuran diameter
sekitar 1 mm, digunakan sebagai lampu-lampu indicator pada panel-panel pada
ruang yang relatif sempit. Sebaliknya, LED-LED terbesar (jumbo) memiliki ukuran
diameter 10 mm dan digunakan dalam
aplikasi-aplikasi yang membutuhkan lampu-lampu peringatan yang harus mudah
terlihat.
LED
sangat ideal untuk digunakan sebagai lampu indicator karena hanya membutuhkan
arus listrik yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan lampu-lampu filamen.
Hal ini menjadikan LED sangat cocok untuk digunakan pada perangkat-perangkat
yang digunakan oleh baterai, dimana penggunaan lampu filamen akan segera
menghabiskan daya yang tersedia. Juga terdapat fakta bahwa lampu-lampu filamen
memiliki usia pemakaian yang terbatas. Cepat atau lambat, kawat filamen didalam
ampu akan terbakar. Disisi lain, LED dapat bertahan untuk tetap digunakan,
praktis, selamanya.
-
Bias Mundur
Sebuah
LED hanya mampu bertahan terhadap tegangan bias mundur sebesar beberapa volt.
Sebagian besar LED dapat menerima bias mundur hingga 5 V, namun biasanya tidak
lebih dari itu. Hal ini sangat berbeda dengan kasus dioda pada umumnya, yang
dapat bertahan terhadap bias mundur
hingga beberapa ratus volt. Karena rangkaian-rangkaian yang melibatkan LED-LED
seringkali memiliki tegangan sumber sebesar 6 V atau lebih, maka kita perlu
memastikan LED disambungkan dengan
polaritas yang benar didalam rangkaian.
-
LED-LED dua Warna
LED-LED yang dapat berubah
warna sangat berguna bagi sejumlah
aplikasi tetentu. Sebagai contoh, LED dapat digunakan untuk
mengindikasikan ‘semua system berjalan
baik’ ketika warnanya hijau dan mengindikasikan kondisi ‘kegagalan sistem’
ketika warnanya merah. Pada sebuah kamera digital, kita dapat menjumpai sebuah
lampu indicator ‘rekam /putar’ yang akan menyala merah ketika kamera sedang
merekam sesuatu dan menya hijau ketika sedang memutar suatu rekaman.
LED-LED yang dapat menampilkan dua buah
warna disebut sebagai LED dua warna
(bicolour).
C.
Spesifikasi
Dioda
Agar dapat memilih dioda sesuai dengan
keperluan, orang harus tahu spesifikasi yang diberikan oleh pabrik dalam lembar
data. Beberapa spesifikasi yang penting antara lain : tegangan puncak, arus
maju rata-rata, arus sentakan maju, tegangan maju maksimum, tegangan maju, arus
balik, disipasi daya dan waktu pulih balik.
Disamping
itu dioda harus dicek apakah rusak atau tidak.Cara pengecekan dapat dengan
menggunakan multitester yang selektornya diletakkan pada posisi ohm meter. Maka
pada arah maju (prasikap maju) tahanannya akan kecil, pada umumnya < 100Ω.
Sedang pada arah balik (prasikap balik) tahanannya > 5000Ω.Perlu diingat
bahwa colok + pada multitester justru terhubung dengan kutub – baterei, sedang
colok – pada multitester justru terhubung dengan kutub + baterei.
Jika hasil pengukuran menunjukkan :
1. Kedua tahanannya (tahanan maju dan balik)
sangat besar, maka dioda
telah
putus.
2. Kedua
tahanannya sangat kecil, maka dioda terhubung singkat.
3. Pada
satu arah (forward bias) tahanannya kecil dan
pada arah yang lain (reverse biased) tahanannya besar, maka dioda baik.
A.
Cara
Kerja Dioda
Untuk
dapat memahami bagaimana cara kerja dioda kita dapat meninjau 3 situasi sebagai
berikut ini yaitu :
1.
Dioda
diberi tegangan nol
Gambar
3. dioda di beri tegangan 0
Ketika
dioda diberi tegangan nol maka tidak ada medan listrik yang menarik elektron
dari katoda. Elektron yang mengalami pemanasan pada katoda hanya mampu melompat
sampai pada posisi yang tidak begitu jauh dari katoda dan membentuk muatan
ruang (Space Charge). Tidak mampunya elektron melompat menuju katoda disebabkan
karena energi yang diberikan pada elektron melalui pemanasan oleh heater belum
cukup untuk menggerakkan elektron menjangkau plate.
2. Dioda
diberi tegangan negatif
![]() |
Gambar
4. Dioda diberi tegangan negatif
Ketika
dioda diberi tegangan negatif maka potensial negatif yang ada pada plate akan
menolak elektron yang sudah membentuk muatan ruang sehingga elektron tersebut
tidak akan dapat menjangkau plate sebaliknya akan terdorong kembali ke katoda,
sehingga tidak akan ada arus yang mengalir.
3.
Dioda
diberi tegangan positif
Gambar
5. Dioda diberi tegangan positif
Ketika
dioda diberi tegangan positif maka potensial positif yang ada pada plate akan
menarik elektron yang baru saja terlepas dari katoda oleh karena emisi
thermionic, pada situasi inilah arus listrik baru akan terjadi. Seberapa besar
arus listrik yang akan mengalir tergantung daripada besarnya tegangan positif
yang dikenakan pada plate. Semakin besar tegangan plate akan semakin besar pula
arus listrik yang akan mengalir.
Oleh
karena sifat dioda yang seperti ini yaitu hanya dapat mengalirkan arus listrik
pada situasi tegangan tertentu saja, maka dioda dapat digunakan sebagai
penyearah arus listrik (rectifier).
D.
Karakteristik
Dioda
Karakteristik dioda dapat ditunjukkan
oleh hubungan antara arus yang lewat dengan beda potensian ujung-ujungnya.
Karakteristik dioda pada umumnya diberikan oleh pabrik, tetapi dapat juga
diselidiki sendiri dengan rangkaian seperti gambar IV-6.

Gambar 6. Rangkaian untuk menyelidiki karakteristik
dioda
Dengan memvariasi potensio P dan mencatat
V dan I kemudian menggambarkan dalam grafik, maka diperoleh kurve karakteristik
dioda (karakteristik statis).Pada umumnya hasilnya adalah seperti pada gambar
IV-7.

Gambar
7. Karakteristik Dioda
Tampak untuk dioda Ge, arus baru mulai
ada pada tegangan 0,3 V sedang untuk dioda Si pada 0,7 V. Tegangan ini sesuai
dengan tegangan penghalang pada sambungan P-N, dan disebut tegangan patah atau
tegangan lutut (cut in voltage atau knee voltage). Tampak pula bahwa arus IR = Io dalam orde µA,
sedang arus maju IF dalam orde mA. Dari lengkungan kurve yang tidak linier,
maka tentu saja tahanan dioda tidak tetap, baik tahanan maju maupun tahanan
baliknya. Jika tegangan balik diperbesar
maka akan mencapai keadaan arus meningkat secara tajam, yang hanya dapat
dibatasi oleh tahanan luar. Tegangan kritis ini disebut tegangan dadal (break
down voltage = peak inverse voltage).
E. Struktur dan Simbol Dioda

Gambar 8. Struktur dan Simbol dioda
Gambar
ilustrasi di atas menunjukkan sambungan PN dengan sedikit porsi kecil yang
disebut lapisan deplesi (depletion layer), dimana terdapat
keseimbangan hole dan elektron. Seperti yang sudah diketahui, pada
sisi P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima elektron
sedangkan di sisi N banyak terdapat elektron-elektron yang siap untuk bebas
merdeka. Lalu jika diberi bias positif, dengan arti kata memberi tegangan
potensial sisi P lebih besar dari sisi N, maka elektron dari sisi N dengan
serta merta akan tergerak untuk mengisi hole di sisi P. Tentu kalau
elektron mengisi hole disisi P, maka akan terbentuk hole pada
sisi N karena ditinggal elektron. Ini disebut aliran hole dari P
menuju N, Kalau mengunakan terminologi arus listrik, maka dikatakan terjadi
aliran listrik dari sisi P ke sisi N.
F. Persamaan Dioda
Pada tegangan maju bukit potensial
sambungan p-n berkurang yaitu menjadi
Vh = Vho – V.
Di sini Vho adalah tinggi bukit potensial tanpa panjar, dan V adalah
beda tegangan pada diode.
Sesuai
dengan statistic Boltzemann, banyakya electron pada bagian p yang mempunyai energy diatas Vh sebanding dengan e-qV/kT , atau secara
matematik np = nn e-qV/kT
Dengan
n adalah rapat electron dari bagian n, q adalah muatan electron, k tetapan Boltzmann, dan T suhu dalam
kelvin.
Begitu
juga halnya dengan lubang. Jika rapat lubang pada bagian p adalah pp
maka rapan lubang pn yang dapat berdifusi ke bagian n adalah
Pn =
pp e-qv/kT
Arus
yang disebabkan difusi pembawa muatan np dan pn disebut
arus injeksi. Besar arus injeksi adalah
II =
K ( np + pn ) = K (Nd + Na) e –qV/kT
Nd
adalah rapat atom donor, dan Na adalah rapat atom akseptor. Karena Nddan Na merupakan
tetapan arus injeksi II dapatlah ditulis sebagai
II =
K’ e –qV/kT
= K’ eiq (
Vho +V)/kT (1.1)
Kita
dapat menyatakan tetapan K’ dengan
arus penjenuhan Is ,yaitu arus yang mengalir jika diode diberi
tegangan mundur.Kita tahu bahwa tanpa tegangan arus diode adalah nol,karena
pada keadaan ini arus injeksi sama dengan arus penjenuhan, tetapi berlawanan
arah . hal ini berarti
II =
(V = 0 ) = - IS = k’ e-qV/kT
Akibatnya
persamaan (1.1) dapat ditulis sebagai
II =
- Is-qV/kT e-qV/(Vho-V)/kT atau II
= Ise-qV/kT (1.2)
Arus
total yang mengalir dalam keadaan tegangan maju adalah
I = II
+ Is = - Is (eqV/kT – 1) (1.3)
Persamaan
(1.3) disebut persamaan dioda, dan memberikan bentuk fungsi teoritis untuk ciri
dioda dengan tegangan maju.
G. Dioda Dalam
Rangkaian Penyearah
Rangkaian
penyearah merupakan rangakain yang menyearahkan arus tau tegangan AC menjadi
DC. Dimana rangkaian ini terdiri dari komponen diode yang berfungsi sebagai
sumber tegangan. maka dioda dapat dimanfaatkan sebagai
penyearah untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah .
Ada tiga
jenis penyearah yang kita pelajari, yaitu
a.
Penyearah setengah-gelombang.
b.
penyearah
gelombang penuh
c.
penyearah gelombang penuh sistem
jembatan
1.
Penyearah Setengah Gelombang
Rangkaian
penyearah yang paling sederhana adalah penyearah setengah gelombang,terdiri dari sebuah dioda yang
dipasang pada sisi sekunder sebuah trafo dan diserikan dengansebuah beban R, seperti pada gambar penyearah
setengah gelombang.
Sebagai
penyearah diode rectifier)
dioda berfungsi menyearahkan/merubah tegang input yang ac (bolak-balik) menjadi
dc (searah). Tegangan ac merupakan gelombang sinus bolak-balik, yang akan
berganti dari gelombang positif ke negative terus menerus. Seperti terlihat
pada gambar di bawah ini merupakan rangkaian penyearah setengah gelombang
dengan menggunakan satu buah diode. Resistor dipasang sebagai tahan beban
rangkaian. Prinsip kerja rangkaian dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Saat titik A mendapatkan
tegangan positif (+) dan B negative (-), Dioda dalam kondisi dipanjar maju
karena kaki anoda mendapat tegangan positif. Karena diode dalam kondisi On,
maka Arus akan mengalir dari titik A – Dioda – R dan kembali ketitik B-. karena
arus mengalir melewati R, maka pada R akan timbul tegangan sebesar Vin x 0.386.
Tegangan yang timbul pada R merupakan tegangan output (Vout).
2. Saat titik A mendapatkan
tegangan negative (-) dan B positif (+), Dioda dalam kondisi dipanjar terbalik
karena kaki anoda mendapat tegangan negatif. Sehingga diode dalam kondisi off,
maka tidak ada Arus yang mengalir .Kondisi menyebakan tegangan pada
keluaran/output sama dengan 0/tidak ada.
![]() |
Gambar 9. Rangkaian
Penyearah setengah gelombang
![]() |
Gambar 10. Bentuk sinyal input dan output
penyearah setengah gelombang
2. 


Penyearah Gelombang Penuh (Full Wave)
Penyearah
tegangan
dengan menggunakan 2 buah diode memerlukan transformator/trafo yang mempunyai
terminal CT (center tep/titik tengah). Dioda akan bekerja secara bergantian.
Sehingga tegangan pada output akan selalu ada. Prinsip kerja rangkaian bias
dijelaskan sebagai berikut:
1.
Saat titik A
mendapatkan tegangan positif (+) dan B negative (-), Dioda D1 dalam kondisi
dipanjar maju karena kaki anoda mendapat tegangan positif dan D2 dalam kondisi
dipanjar terbalik (off). Karena diode D1 dalam kondisi On, maka Arus akan
mengalir dari titik A – D1 – R dan kembali ketitik CT. Karena arus mengalir
melewati R, maka pada R akan timbul tegangan sebesar Vin x 0.636. Tegangan yang
timbul pada R merupakan tegangan output (Vout).
Gambar 11. Rangkaian Penyearah gelombang penuh
2. Saat
titik A mendapatkan tegangan negative (-)dan B positif (+),Dioda D2 dalam
kondisi dipanjar maju karena kaki anoda mendapat tegangan Positif dan D2 dalam
kondisi dipanjar maju (On). Karena diode D2 dalam kondisi On, maka Arus akan
mengalir dari titik B – D2 – R dan kembali ketitik CT. Karena arus mengalir
melewati R, maka pada R akan timbul tegangan sebesar Vin x 0.636. Tegangan yang
timbul pada R merupakan tegangan output (Vout).
![]() |
Gambar 12. Rangkaian Penyearah gelombang penuh
3. Saat titik A mendapatkan
tegangan positif (+) dan B negative (-), Dioda D1 dalam kondisi dipanjar maju
karena kaki anoda mendapat tegangan positif dan D2 dalam kondisi dipanjar
terbalik (off). Karena diode D1 dalam kondisi On, maka Arus akan mengalir dari
titik A – D1 – R dan kembali ketitik CT. Karena arus mengalir melewati R, maka
pada R akan timbul tegangan sebesar Vin x 0.636. Tegangan yang timbul pada R
merupakan tegangan output (Vout).
4.
Saat
titik A mendapatkan tegangan negative (-)dan B positif (+),Dioda D2 dalam kondisi dipanjar terbalik karena kaki anoda mendapat tegangan negative
(off) dan D2 dalam kondisi dipanjar maju (On). Karena diode D2 dalam kondisi
On, maka Arus akan mengalir dari titik B – D2 – R dan kembali ketitik CT.
Karena arus mengalir melewati R, maka pada R akan timbul tegangan sebesar Vin x
0.636. Tegangan yang timbul pada R merupakan tegangan output (Vout).
![]() |
Gambar 13. Bentuk sinyal input dan output penyearah gelombang penuh
3. Penyearah Gelombang
Penuh sistem Bridge(Jembatan)
Prinsip
kerja penyearah dengan 4 buah diode sama dengan penyearah gelombang penuh
menggunakan 2 buah diode, hanya pada penyearah system bridge ini transformator
yang digunakan tidak harus CT. Dioda akan bekerja secara berpasangan, jika D1
&D3 On, D2 & D3 off, begitu juga sebaliknya.
1. Saat
titik A mendapatkan tegangan positif (+) dan B negative (-), Dioda D1 & D3
dalam kondisi dipanjar maju karena kaki anoda mendapat tegangan positif dan D2
&D3 dalam kondisi dipanjar terbalik (off). Karena diode D1 & D3 dalam
kondisi On, maka Arus akan mengalir dari titik A – D1 – R- D3 dan kembali
ketitik B-. Karena arus mengalir melewati R, maka pada R akan timbul tegangan
sebesar Vin x 0.636. Tegangan yang timbul pada R merupakan tegangan output
(Vout).
![]() |
Gambar 14. Rangkaian
Penyearah gelombang penuh sistem jembatan
5.
Saat titik A mendapatkan tegangan negative (-)dan B positif (+),Dioda
D2 &D4 dalam kondisi dipanjar maju karena kaki anoda mendapat tegangan
positif (On) dan D1 & D3 dalam kondisi dipanjar terbalik (Off). Karena
diode D2 & D$ dalam kondisi On, maka Arus akan mengalir dari titik B – D2 –
R- D4 dan kembali ketitik A-. Karena arus mengalir melewati R, maka pada R akan
timbul tegangan sebesar Vin x 0.636. Tegangan yang timbul pada R merupakan
tegangan output (Vout).
Gambar 15. Rangkaian Penyearah gelombang penuh sistem jembatan
H. Kesimpulan
1.
Pada penyearah setengah gelombang,
tegangan yang disearahkan oleh dioda hanya pada gelombang yang bernilai
positif, sehingga outputnya hanya berupa setengah gelombang.
2.
Sedangkan pada penyearah gelombang penuh, tegangan yang
disearahkan oleh 2 dioda dengan nilai nol menggunakan CT dari transformator,
maka didapatkan penyearahan gelombang yang penuh, tidak ada tegangan input yang
hilang. Sehingga nilai Vav yang terukur lebih tinggi dari nilai Vav penyearah
setengah gelombang.
3.
Penambahan filter pada penyearah berpengaruh pada nilai
Vmin dan Vav karena pengaruh dari kerja kapasitor sebagai penyimpan sementara.
4.
Dalam
penerapan dan pengaplikasiannya, dioda daya merupakan salah satu komponen yang
sangat penting di dalam sebuah peralatan elektronika, terutama yang menggunakan
tegangan searah sebagai catu dayanya, karena hampir semua peralatan elektronika
menggunakan tegangan searah yang mana untuk menyearahkan tegangan tersebut umumnya
adalah menggunakan dioda daya.
5.
Dalam
penerapan dan pengaplikasiannya, dioda daya merupakan salah satu komponen yang
sangat penting di dalam sebuah peralatan elektronika, terutama yang menggunakan
tegangan searah sebagai catu dayanya, karena hampir semua peralatan elektronika
menggunakan tegangan searah yang mana untuk menyearahkan tegangan tersebut
umumnya adalah menggunakan dioda daya
1.
U. S. Karawang, “Makalah Dioda.” .
2. P. P. Sederhana and I. T. Percobaan, “Penyearah Setengah
Gelombang,” pp. 1–35, 2016.
3. P. K. Pertiwi, S. C. Puspita, and J. Fisika,
“Karakteristik Dioda Sebagai Penyearah,” pp. 1–5.
4. Yohandri, “Elektronika Dasar 1,” Elektron. Dasar 1,
p. 240, 2016.
5. H. D. Surjono and D. Ph, Elektronika - Teori dan
Penerapan-BAB2-sc.pdf.
6.
“APLIKASI-DIODE-RANGKAIAN-PENYEARAH-SETENGAH-GELOMBANG-docx.”
7. Sumarna, “Percobaan PENYEARAH GLOBING”, Jurdik Fisika
FMIPA UNY







